Blangkon Jogja

Jual Blangkon Jogja serta Menyajikan Informasi Harga Blangkon, Gambar Blangkon, dan Seluk Beluk Blangkon Jawa dan Budaya Indonesia. (+62 896-6706-6866)
Semua Tentang Blangkon

Semua Tentang Blangkon

Hasil gambar untuk Semua Tentang Blangkon
Blangkon sebagai pelengkap busana tradisional masyarakat Jawa Sumber : Bobo.ID

 

Sejarah blangkon

Mas dan mbak pasti tahu kan kalau Blangkon adalah salah satu pelengkap busana tradisional masyarakat Jawa berupa topi sebagai penutup kepala berbahan kain batik dan berbentuk seperti ikat kepala. Konon, dalam cerita rakyat budaya Jawa tentang Aji saka yang berhasil mengalahkan raksasa jahat penguasa tanah Jawa pada saat itu, Dewata Cengkar. Diceritakan bahwa Aji Saka berhasil membentangkan kain penutup kepalanya untuk menutupi tanah Jawa. Namun, masih belum ada kepastian apakah kain yang digunakan Aji Saka adalah blangkon atau bukan. Meskipun demikian, dari legenda Aji Saka tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat tanah Jawa sudah memakai pengikat kepala sejak zaman dahulu.

Aturan dalam sebuah blangkon

Pada dasarnya, blangkon terbuat dari kain batik berbentuk segiempat berukuran 150cmX 150 cm. Namun, di era modern ini, kain blangkon hanya digunakan setengah ukuran aslinya. Pada zaman dahulu, blangkon tidak bisa dibuat oleh sembarang orang, hanya seorang seniman yang memiliki pengetahuan dan keahlian mengenai aturan membuat blangkon. Pemenuhan nilai-nilai aturan serta keindahan dan estetika dalam proses pembuatan sebuah blangkon sangat berpengaruh terhadap nilai-nilai terkandung di dalam blangkon tersebut. Semakin baik nilai-nilai yang terpenuhi, semakin baik pula kualitas blangkon.

Makna dan filosofi blangkon

Bagi masyarakat Jawa, blangkon memiliki makna khusus tersendiri yang melambangkan identitas sebagai orang Jawa dan sebagai bentuk dari pengendalian diri.Dahulu kala mayoritas masyarakat Jawa, khususnya kaum pria sangat senang memanjangkan rambutnya. Namun, rambut mereka tidak dibiarkan tergerai begitu saja, melainkan mereka ikat dengan rapi dibagian belakang kepala mereka. Konon, rambut yang terurai melambangkan meluapnya emosi yang sudah tidak dapat tertahan lagi, sehingga blangkon sebagai penutup kepala menjadi peringatan agar selalu bersikap lembut dan menahan emosi.

Selain itu, blangkon juga memiliki filosofi sebagai dua syahadat. Dua kain pada bagian belakang blangkon melambangkan syahadat kepada Allah SWT dan syahadat kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan meletakkan syahadatain di kepala, melambangkan bahwa setiap pemikiran atau akal yang berasal dari kepala harus berdasarkan aturan-aturan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dalam Islam.

Macam-macam blangkon

Ada dua jenis blangkon yang familiar bagi kita, yaitu blangkon yang memiliki tonjolan di bagian belakang kepala dan blangkon yang tidak memiliki tonjolan di bagian bawah ikat kepala alias rata. Menurut legenda diceritakan, pada zaman dahulu para kaum pria yang berambut Panjang mengikat rambutnya dan menutupinya dengan blangkon. Namun, seiring masuknya Belanda ke Indonesia, khususnya daerah Solo, masyarakat sudah mulai mengenal mencukur rambut. Alhasil, merubah bentuk blangkon menjadi rata atau sering disebut ‘blangkon trepes’. Sedangkan blangkon Jogja masih tetap dengan tonjolan di bagian bawah ikat kepala.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

Assalamualaikum Blangkonjogja.com
Send via WhatsApp