Blangkon Jogja

Jual Blangkon Jogja serta Menyajikan Informasi Harga Blangkon, Gambar Blangkon, dan Seluk Beluk Blangkon Jawa dan Budaya Indonesia. (+62 896-6706-6866)
Perang Gerilya Jendral Soedirman

Perang Gerilya Jendral Soedirman

Figure A - Jendral Soedirman, Karya Joes Supadoyo, menggambarkan sosok Jendral Soedirman yang mengenakan blangkon
Figure A – Jendral Soedirman, Karya Joes Supadoyo, menggambarkan sosok Jendral Soedirman yang mengenakan blangkon

 

Sosok Jenderal Soedirman

Hayoo, Mas dan Mbak siapa yang tak kenal dengan sosok tokoh kemerdekan yang satu ini?, pemimpin perang Gerilya yang memperjuangkan bangsa dalam belenggu penjajah di masa lalu yang kelam. Yak, betul, beliau adalah Jendral Soedirman yang mempunyai ciri khas di kepalanya, yaitu beliau selalu menggunakan Blangkon dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun.

 

Misi Jenderal Soedirman

Jenderal Soedirman akhirnya kembali ke Bintaran Timur dan membuat keputusan penting, yaitu keluar dari Kota Yogyakarta untuk berperang gerilya. Dengan mengendarai mobil dinas, Pakde Dirman ini dikawal oleh satu regu besar pasukan yang menumpang mobil bak terbuka. Mobil itu berjalan beriringan meninggalkan kota Yogyakarta tercinta melalui rute Pantai Selatan. Tidak ada bekal terbawa oleh pakdhe satu ini, yang ada hanyalah sepucuk senjata untuk berperang melawan penjajah. Seluruh perlengkapan telah dibakar.

Pertama kali mereka beristirahat di Grogol Yogyakarta sambil memetakan rute gerilya. Gunung Wilis Kediri dipilihnya menjadi tujuan akhir perjalanan mereka, karena Gunung Wilis dinilai strategis, mengapa? Di tempat itu, panglima setempat telah menyiapkan Markas yang dilengkapi pemancar radio serta peralatan lainnya yang terbilang canggih di jamannya. Fasilitas itu memudahkan panglima untuk mengirimkan komando ke anak buahnya di segala penjuru tanah air ini lho.

“Di Grogol Pak Dirman diperiksa kesehatannya oleh dokter Suwondo dan kondisinya masih sama saat waktu di rumah,” katanya.

Dari Grogol Yogyakarta mereka bergerak menuju pantai selatan Parangtritis. Perjalanan mereka tertahan saat menemui muara sungai dekat laut selatan. Tidak ada jembatan untuk menyeberangkan kendaraan di sungai besar itu. Mereka terpaksa meninggalkan kendaraan di tepi sungai.

 

Figure B – Jendral Soedirman sedang hormat dengan mengenakan blangkon

Kedatangan Jenderal Soedirman di wilayah pantai selatan Parangtritis

Setelah berhasil mendarat, pakdhe Dirman diarak dengan tandu yang dipikul oleh banyak rakyat. Sementara pasukan pengawal mengiring dengan mata yang selalu awas, mengawasi segala arah demi mengamankan pakde Dirman dari musuh. Menurut Abu, tak susah mencarikan tandu bagi pak Dirman jika kendaraan itu mengalami kerusakan. Hampir setiap memasuki desa, rakyat telah menyiapkan tandu baru untuk pak Dirman.

“Anda tidak bisa bangga bisa menang dengan panglima yang sehat dan perlengkapan lengkap. Tapi panglima kami sakit parah, persenjataan kurang. Tapi kami tetap semangat berjuang,” katanya.

Strategi gerilya memudahkan mereka untuk melakukan serangan mendadak ke musuh, lalu sembunyi ke hutan hingga serangan berikutnya. Tak terhitung berapa kali mereka berhadapan dengan serdadu Belanda selama bergerilya. Sebagian pasukan pengawal gugur dalam pertempuran. Banyak prajurit yang bertempur di kota menyusul Pakde Dirman untuk menambah kekuatan. Rute gerilya tak mengenakkan. Wilayah selatan, melalui Gunung Kidul dikenal daerah rawan kekurangan pangan.

Asupan gizi mereka bergantung dari warga yang ikhlas mengirim bantuan makanan. Jika tak ada bantuan makanan, mereka memakan buah-buahan yang ditemui di hutan untuk bertahan hidup.

“Bagaimana kami bertahan hidup selama berbulan-bulan bergerilya? Jawabannya adalah mukjizat Tuhan. Karena kami sering tidak makan, bahkan sampai tiga hari tidak makan.

Pak Dirman menawarkan ke pasukannya yang tidak kuat agar kembali ke kota. Tapi tidak ada prajurit yang kembali, karena kami seiya sekata dengan panglima sampai mati,” katanya.

Markas komando di puncak gunung Wilis belakangan terendus oleh radar Belanda. Markas itu pun kemudian dibombardir oleh pasukan Belanda hingga hancur.

Rombongan pasukan Soedirman terdesak turun dan bergerak mendekati markas Kolonel Gatot Soebroto di lereng gunung Lawu. Langkah mereka terhenti di sebuah rumah kosong milik orang Arab.

 

Figure C – Jendral Soedirman sedang duduk santai bersama rekan

 

Foto di atas menunjukan Jendral Soedirman yang sedang melakukan diskusi dengan Letkol Suharto dan Rosihan Anwar di daerah Ponjong, Gunung Kidul, Yogyakarta pada tanggal 8 Juli 1949.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

Assalamualaikum Blangkonjogja.com
Send via WhatsApp